Persiapannya sungguh banyak mulai dari tenda, ember, cangkul, dan lainnya. Sementara untuk peralatan kendaraan ada jaring, tali, pengait, dan lainnya. Begitu juga persiapan makanan seperti beras, camilan, lauk pauk, dan lainnya. Banyak nian persiapannya pertanda sebuah usaha maksimal mempersiapkannya.
Keluarga ilalang menyongsong jambore keluarga ilalang. Pelaksanaannya 21-23 Juni 2023 di Arkana Adventure Padarincang kabupaten Serang Banten.
Kalau persiapannya begitu ribet, itu pertanda ikhtiar menyiapkan dengan serius. Orang tua ingin memberikan kenyamanan kepada anak-anaknya. Tapi tetap ingin mengajarkan ketegaran dan perjuangan kalau ketemu kesulitan.
“Nanti kalau pas camping harus dinikmati. Capek boleh, mengeluh jangan. Dulu sih Abah Apri sering bilang gitu.”
Penting mempertemukan anak dengan kesulitan-kesulitan yang membuatnya belajar menghadapi dan menyelesaikannya. Kalau dibiasakan dari sekarang maka besok-besoknya sudah punya bekal.
Ngumpul di pagi hari jadi latihan untuk disiplin waktu. Berusaha datang secepatnya bukan hanya patuh pada panitia tapi pembuktian manajemen waktu diri sendiri. Kalau ternyata telat, itu bukan disengaja, karena banyak kondisi yang tidak bisa datang secepatnya. Saya berkali-kali minta maaf kepada anak-anak dan menyadarkan mereka bahwa orang tua telat karena banyak yang diurus.
Di perjalanan ada kendala itu biasa. Kehabisan bahan bakar, mobil mogok, barang ketinggalan atau anak rewel sudah lumrah terjadi. Yang penting itu reaksi kita. Apakah marah-marah, kesel, tarik nafas, atau santai saja. Tinggal pilih. Hehe..
Solusi saat menghadapi juga jadi pembelajaran. Saat mobil mogok justru memunculkan kekeluargaan, gotong royong, pengorbanan, dan lainnya. Satu keluarga mogok maka keluarga lainnya saling bantu. Ikut mendorong, memindahkan penumpang, mencarikan montir, dan lainnya.
Senang sekali berada di komunitas orang-orang yang punya kepedulian tinggi, saling bantu, dan meringankan satu sama lain. Kalau sedang berada di lingkungan seperti itu, harus betah, harus dijaga baik-baik. Sepakat?
Semakin banyak bawaan, semakin banyak tenaga yang dipakai untuk membawanya ke bawah. Orang tua repot. Tapi itu repot yang menyenangkan dan membahagiakan. Itulah kerepotan demi keluarga.
Keluarga ilalang disambut ucapan selamat datang dengan turun hujan. Baru saja mendirikan tenda sudah diguyur hujan.
Memang basah tapi hikmahnya udara jadi sejuk. Di tempat yang banyak tanaman dan pepohonan itu udara semakin segar.
Mendirikan tenda jadi sarana kekompakan sesama keluarga. Berani mengemukakan ide mendirikan tenda sekaligus belajar sabar kalau ide itu tidak dipakai. Misalnya dalam penentuan lokasi tenda. Bisa kan beda pendapat karena beda keinginan juga.

Saat hujan, kalau bisa tetap membantu mendirikan tenda. Tapi orang tua perlu maklum juga saat anak-anak pengen main hujan-hujanan. Mereka pun biasanya nggak tahan buat nggak maen kalau udah lihat temennya maen.. satu orang maen, lainnya ikut-ikutan.
Mengenal Lebih Jauh Sekolah alam
Apa itu belajar di alam? Apakah memindahkan kelas dari ruangan ke alam itu termasuk belajar di alam?
Tentu pertanyaan ini sangat mendasar untuk dipahami. Bahkan orang tua sekolah ilalang mungkin belum paham dengan hal ini. Dan salah satu orang tua Ilalang itu adalah saya hehehe…

Jambore keluarga Ilalang tak hanya aktivitas camping saja tetapi juga aktivitas berguru. Panitia mendatangkan Ustadz M. Ferous yang membawakan materi tentang sekolah Ilalang dengan apiknya.
Bahkan jujur saja konsep sekolah alam baru saya pahami (kulitnya saja) dari penyampaian beliau. Intinya sih ada pada rumus 4-3-8. Tentang ini perlu disimak melalui rekaman materi beliau lewat YouTube Ilalang school saja ya. Saya yakin akan semakin paham dengan konsep sekolah alam.
“Apakah Bapak Ibu pengen anaknya jadi penurut?”
Ketika ditanya itu, sebagian besar orang tua mengangkat tangannya. Namun ada orang tua yang tidak mengangkat tangan.
Tentu wajar kalau orang tua menginginkan anaknya jadi anak yang penurut.
“Bapak Ibu tahu mengapa bangsa kita dulu mudah dijajah?”
“Karena sering menurut pada penjajah, ustadz!”
“Ya betul. Bangsa kita dengan mudah dijajah karena waktu itu lebih sering nurut daripada memberontak. Hingga saat ini bangsa kita sulit maju karena sering nurut. Sampai di sini Ayah Bunda masih ingin anaknya menjadi anak yang penurut?”

Maka kali ini semakin berkurang orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang penurut. Meskipun masih ada keinginan untuk memiliki anak yang penurut.
“Ayah Bunda, kita mendidik anak yang tidak penurut tetapi patuh pada peraturan. Itu lebih baik daripada sekedar anak yang penurut.”
Sampai di sini saya disadarkan bahwa penting mendengar keinginan anak-anak. Mereka perlu didengarkan usulan, curhatan, keinginan, harapan, atau ide-ide mereka. Dari sanalah kita mendidik mereka menjadi sosok yang berani berbicara dan cerdas memberikan ide. Jangan melulu mengharap mereka mendengarkan kita tanpa pernah didengar.
Penulis:
Abi Jundi (Supadilah)

Leave A Comment