Banyak hal yang kami amati dan pelajari dalam perjalanan kali ini. Anak-anak tumbuh dengan fitrah yang sudah Allah titipkan.
Fitrah Iman
Dikegiatan live ini ini, kami berkesempatan berguru ke Ustadz Sudin. Beliau adalah salah satu Ustadz yang mengajari islam kepada penduduk kampung Baduy Mualaf. Ada salah satu anak yang bertanya, “Bagaimana awal mula kampung ini terbangun?”. Lalu ustadz mulai bercerita tentang sosok yang mengawali pembangunan kampung ini, yakni Almarhum dr. Ashari. Beliau adalah seorang dokter yang mewakafkan hartanya untuk pembangunan kampung ini. Juga membuka peluang untuk siapa saja yang mau berwakaf/berdonatur.
Dari kisah tersebut, kami teringat firman Allah, bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah, taat dan tunduk padaNya. Dan keteladanan yang almarhum lakukan adalah salah satu contohnya, menyebarkan islam dan beramal jariyah untuk sesama. Kami terinspirasi untuk bisa juga menjadi manusia bermanfaat yang menyebarkan nilai² Islam.
Fitrah Belajar
Diumur mereka yang sudah masuk jenjang petualang, anak-anak diharapkan bisa belajar dengan alam, yaitu belajar untuk mengelola alam sekitar.
Di live ini kali ini, kami benar-benar menyatu dengan alam. Hidup diatas saung. Suasana yang asri dan sunyi, terdengar senyap-senyap bunyi hewan jangkrik. Kami belajar hidup lebih tenang di perkampungan ini. Kami juga jadi tau bagaimana orang-orang baduy itu kuat-kuat. “Teh, ini rumahnya terbuat dari kayu apa ya? Kuat banget, pasti berat ini” celetuk sakah satu anak. Kami mulai penasaran dengan orang-orang yang bisa membangun rumah ini. Lalu bertanyalah kaami ke Ustadz Sudin. Ternyata karena memang dari kecil mereka terlatih hidup di alam. Berjalan tidak menggunakan alas kaki. Yang akhirnya membuat tubuh mereka kuat. Dengan tubuh mereka yang kuat itu, mereka bisa membagun rumah hanya dalam waktu 3 hari. Padahal kayu-kayu yang digunakan sangat berat dan besar. Mereka juga kuat sekali untuk berjalan jauh. Jalannya cepat sekali walau diatas jalan berbatuan.
Kami belajar dengan orang-orang baduy yang kesehariannya menyatu dengan alam. Alam mengajarkan mereka dan membentuk mereka menjadi pribadi yang kuat.
Fitrah Bakat
Bacpacker berhasil membuat kami mengenal diri sendiri dan mengenal satu sama lain.
Saat berbagi peran, ada yang mengajukan dirinya untuk menjadi A, ada juga yang mengusulkan temannya untuk menjadi B.
Terlihat sekali bagaimana anak-anak itu punya keunikan masing-masing. Ada yang punya bakat positifity, dia selalu bisa menebar auta positif ke sekelilingnya. Ada yang punya bakat strategic, ia yang mengatur barisan saat tracking di tengah sawah, hutan yang gelap. Ada yang significance, ia sangat pede saat berada di depan. Ada punya bakat comand, yang mengatur teman-temannya saat mendapat tugas. Dan bakat-bakat lainnya.
Semua berperan dengan bakatnya masing-masing.
Fitrah Sosial
Live in kali ini diawali dengan kampung tour. Kami mengelilingi komplek-komplek yang ada di kampung tersebut. nama-nama komplek diambil dari asmaul husna, yakni arrahman, arrahim, arrazaq dan al ghaniy. Kami berkeliling di temani 2 pengurus kampung, Bu Lina dan Bu Uni. Saat berkeliling kami juga mengobrol dan bertanya dari rumah ke rumah. Bertanya mengenai nama mereka, anggota keluarga, berapa lama mereka tinggal, kenapa mereka ingin tinggal dinkampung ini dan bagaimana perasaan mereka.
Saat berkelling dan bertanya daei rumah ke rumah, kami membagi anak² menjadi 3 kelompok. Mereka belajar mengatur kelompoknya, belajar membagi tugas, belajar menyapa warga juga belajar bertanya. Ada yang masih malu-malu. Ada yang dengan pedenya langssung menyapa dan bertanya.
Kemampuan kolaborasi, teamwork dan leadership mereka diuji disini.
Fitrah Seksualitas
Bahwa benar, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Fitrah yang berbeda, karakter yang juga berbeda melengkapi satu sama lain.
Di live in ini juga memperlihatkan perbedaan keduanya. Laki-laki kelas petualang, membantu mengangkat barang yang berat, berani berjalan di depan ketika di hutan yang gelap. Ada juga yang ditengah dan belakang untuk menjaga perempuan.
Sedang perempuan, mereka lebih berempati, mengayomi dan telaten.
Laki-laki juga mengambil pelajaran penting tentang kekuatan laki-laki baduy. Menjadi laki-laki yang bertubuh kuat. Juga laki-laki yang berani untuk merantau.
Perempuan juga belajar tentang 1 hal yg mereka dapatkan dari wawancara kampung tour. Ada anak 14 tahun yang sudah menikah. Ternyata memang salah satu hal yg kita pelajari, bahwa perempuan baduy sudah terbiasa hidup mandiri, belajar mengatur rumah, sehingga orangtua mereka memberikan kepercayaan terhadap anak perempuannya untuk menikah. Perempuan kelas Petualang belajar tentang mempersiapkan aqil baligh, bersiap menjadi istri dan ibu.
Fitrah Bahasa
Salah satu kekurangan kami saat live in kemarin, adalah kurangnya memahami bahasa penduduk.
Banyak hal yg akhirnya kami tak mengerti karena kendala bahasa. “Teh aku masih penasaran sama cerita ibu Aisah yang penduduk asli Baduy dalam itu. Aku pengen tahu ceritanya pasa masuk islam” protes anak-anak karena belum mendapat cerita sepenuhnya tentang perjalanan Bu Aisah.
Tapi, kami jadi belajar juga tentang bahasa tubuh. Mulai dari senyuman, tatapan mata dan gesture yang ramah, bisa membuat kami berkomunikasi, dan menyapa penduduk.
Fitrah Jasmani
Alhamdulillah di Live in baduy kali ini, membuat kami lebih sehat dan bugar. 1 hari kami bisa menghasilkan lebih dari 10.000 langkah.
Selain itu, saat pulang dari bermain di sungai, kami barefoot untul melatih otot kaki dan melatih keseimbangan tubuh.
Kami juga makan dengan cukup dan tidur cepat, karena lelah berkegiatan.
Backpacker kali ini cukup melelahkan, tapi ini juga yang membuat kami menjadi sehat.
Alhamdulillah fitrah-fitrah kami tumbuh di kegiatan backpacker ini. Menguatkan potensi lewat interasksi anak dengan kehidupan nyata.
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” – QS Al Mulk ayat 15.
Selamat menyusuri Bumi Allah. Berjalanlah dan ambil hikmah dari setiap perjalanannya~
Catatan Fasilitator Kelas Petualang
Teh Wafa

Leave A Comment