Camping bersama anak-anak bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga menjadi momen berharga untuk membangun ikatan kekeluargaan dan memberikan pengalaman belajar yang tak terlupakan. Di alam bebas, anak-anak dapat belajar banyak hal yang tidak bisa didapatkan dari buku, gadget atau media sosial.
Banyak hal yang bisa ditemukan, bukan hanya tentang keajaiban alamnya yang luar biasa. Namun, kejutan dari sikap, kepribadian, dan bakat anak-anak yang awalnya mungkin tak terlihat sebelumnya.
Anak benar-benar merasakan pengalaman emosional dan sosial secara nyata. Berinteraksi dengan semesta, berkomunikasi dengan teman-temannya, bernegosiasi saat menentukan peraturan, menyelesaikan konflik, bahkan cara bertahan hidup ketika lapar dan disambut hujan badai.
Saat hari pertama sampai di sana, kami disambut hujan lebat, angin kencang, petir yang dahsyat, dan terputusnya aliran listrik yang membuat tantangan semakin lengkap. Semua berhamburan menyelamatkan barang bawaan, gotong royong antara mengatur isi tenda, membuat parit agar aliran air lancar. Sampai pada titik, satu tenda tim anak perempuan tidak terselamatkan karena mengalami kebocoran.
Apa yang terjadi? Mereka saling berdiskusi mencari solusi, hingga pada akhirnya bisa istirahat bersama di satu tenda berisikan sepuluh anak di dalamnya. Luar biasa.
Terlihat jelas perjuangan mereka belajar mandiri, dengan cara mengurus diri sendiri. Belajar adaptasi dengan kelompok masing-masing, dengan saling memahami. Belajar bertanggung jawab, dan bersedia menanggung konsekuensi peraturan. Belajar sabar, ketika menunggu masakan mereka matang atau pun menerima perlakuan teman, anggota kelompoknya yang dirasa kurang sesuai. Belajar tawakal dan setia kawan, ketika diadakan kegiatan malam.
Hal-hal yang menurut orang biasa saja, tapi bisa jadi hal yang penuh makna. Misal, berjalan kaki di atas tanah, bebatuan, nyemplung ke dalam sungai, tanpa disadarinya itu ternyata bisa meningkatkan kebugaran fisik mereka. Buktinya, dengan banyaknya tempaan selama di sana, mereka bisa bertahan atas kebaikan Allah lewat alamnya.
Nuansa alam yang positif, merangsang jiwa mereka tumbuh aktif juga kreatif. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, ditiadakan handphone dan permainan digital, mereka seperti mendapatkan kesejahteraan mental. Ada momen dimana, beberapa anak yang biasanya tidak berani bicara, tapi di sana justeru terdengar jelas bersuara. Ada beberapa anak yang biasanya tidak berani tampil dan bersembunyi, di sana malah asik menari dan juga bernyanyi.
Dengan modal visi-misi yang sama, para panitia yang berisi tiga pemuda, rela memanggul beban suka-duka dengan hati gembira. Apalagi dibersamai Abah Apri yang selalu berhasil mengikat makna pada setiap momen yang terjadi. Para pendamping, yang selalu setia mendengar, memberi arahan, memastikan semuanya berjalan lancar dan aman, adalah bentuk usaha agar anak-anak bisa tumbuh dan saling mengeratkan kekompakan saat menapakan kaki bersama di alam.
By : Iyus Rusmiati

Leave A Comment