September adalah bulannya kelas Petualang dan Pendaki untuk camp. Camp sebagai ujian mereka. Kali ini aku menjadi bagian dari tim acara.
Kami kemudian berdiskusi dan menyusun rundown. Baru membicarakannya saja sudah terbayang akan keseruannya. Tapi terpikirkan juga, bagaimana kalau tidak bisa terlaksana karena kondisi cuaca dan hal lainnya?. Aku sebagai anak yang serundown itu, mulai ovt memikirkan. Sambil berdoa dalam hati, “Ya Allah semoga semua rencana kegiatannya bisa terlaksana”.
Tapi ada 1 hal penting yang aku pelajari dari squad Ilalang di setiap agendanya. Mereka bisa belajar lebih fleksibel, terkadang ada perubahan, tapi pasti ada pembelajaran. Jadi perlahan, mulai melapangkan hati jika memang kegiatan camp nanti tak sesuai dengan rundown yang sudah disusun.
H-1 minggu. Mulai mengecek perkiraan kondisi cuaca yang akan terjadi di tempat camp nanti. Benar saja, perkiraan dari BMKG, akan ada hujan badai di pelaksanaan camp nanti. Mulai khawatir bagaimana kalau benar terjadi, tapi teman-teman panitia yang lain menguatkan, “udah…itu cuma perkiraan BMKG, kan Allah nanti yang menentukan, banyakin doa aja, bismillah!”
Dan tibalah di hari H pelaksanaan. Sebelum berangkat kami meminta doa kepada semua orang tua yang mengantar. Meminta doa kepada Ambu Nupus, yang belum bisa membersamai kami. Kami juga meminta doa kepada orang tua lainnya melalui grup Keluarga Ilalang. Semua mendoakan. Bismillah!
Perkiraan dari BMKG jam 11.00 akan ada hujan di gunung bunder tempat kami camping. Tapi kami berdoa “Ya Allah hujannya nanti aja ya pas kita outbond. Sekarang kita perlu pasang tenda, sholat, apel pembukaan dan masak dulu ya Allah”. Dan benar saja, hujan turun deras ketika outbond sedang dilaksanakan. Allah Maha Baik, Allah mengabulkan doa kami.
Tapi hujan tidak berhenti selepas kita outbond. Badai mulai datang. Tenda-tenda mulai merembeskan air. Ada 1 tenda juga yang hampir roboh. Semua bekerjasama untuk membuat parit lebih dalam, menyelamatkan barang yang mulai kebasahaan dan mengamankan tenda agar tidak ada air yang masuk. Tapi qadarullah 1 tenda perempuan banjir. Lalu mereka kami uji dengan memikirkan bagaimana solusinya. Setelah mereka berdiskusi. Mereka meminta izin ke kelompok perempuan yang satunya untuk mengungsi di tenda mereka. Mereka mengizinkan. Dan mereka ber 10 tidur bersama di 1 tenda kapasitas 6 orang. Saling berdempetan. Tapi karena itu mereka merasa lebih hangat.
Sementara itu, panitia di tenda umum dapur membantu membuat makanan untuk mereka. Terharu melihat bagaimana panitia kompak membantu satu sama lain. Saat itu menunya adalah bakso. Dan semua panitia juga peserta berkata bahwa bakso hari itu adalah bakso terenak yang pernah mereka makan. Karena dibuat dengan penuh perjuangan dan dimakan disaat kedinginan dan kelaparan.
Hujan tak berhenti sampai jam 21.00. Sedangkan malam itu, kami akan mengadakan agenda night walk untuk menguji nilai panca dharma Ilalang. Tapi kondisi anak-anak dan kami saat itu kelelahan karena baru saja mengalami hujan badai. Tempat camp juga masih becek karena hujan. Dan kami belum tahu apakah hujan akan kembali turun atau tidak. Tapi setelah kami diskusikan, kami sepakat untuk tetap mengadakan night walk dan berdoa agar tidak turun hujan.
Alhamdulillah Allah mengabulkan doa kami. Jam 02.30 kami bangun untuk mempersiapkan night walk. Panitia mulai briefing, dan disana ada sedikit perubahan rencana, yang awalnya kami berencana untuk ada pos melempar air, tapi melihat kondisi anak-anak dan medan, kita tiadakan pos tersebut.
Night walk berjalan dengan baik. Banyak cerita dan kejadian. Membuat tersenyum dan terharu mendengarnya. “Ya Allah terima kasih yaa, Engkau izinkan kami untuk mengadakan night walk. Menambah pengalaman, pembelajaran dan kenangan bagi anak-anak juga kami”
Lalu di pagi hari, rencana kami adalah belajar PBB bersama Pak Polisi dan trekking curug. Semua berjalan sesuai rencana. Sampai selesai berenang dan semua sudah berganti pakaian, hujan perlahan turun. Lalu anak-anak mulai bertanya. “Teh nanti malem ada api unggun kan ya?” dengan wajah yang cemas karena melihat langit yang semakin mendung. Mereka sangat berharap bisa mengadakan api unggun, karena tidak sabar akan menampilkan penampilan yang sudah mereka siapkan. Juga tidak sabar mau menyantap jagung bakar.
Tapi hujan turun semakin deras, dalam hati bergumam “apakah akan ada hujan badai part 2? Ya Allah jangan dulu ya. Kita mau ada api unggun.”
Kami meminta anak-anak untuk banyak berdoa, salah satu waktu mustajab terkabulnya doa, adalah ketika hujan turun. “Teman² banyakin doa ya, supaya hujannya cepat reda, dan nanti malam kita bisa bikin api unggun”.
Alhamdulillah lagi-lagi Allah mengabulkan doa kami. Pukul 16.00 hujan berhenti. Kami mulai keluar dari tenda. Dan semua bergembira. “Ya Allah terima kasih sudah memberi cuaca yang cerah lagi. Semoga sampai malam tidak hujan”
Waktupun berlalu, kami selesai melaksanakan sholat maghrib isya dan almatsurat. Lalu semua bersiap untuk api unggun.
Maha baik Allah, hujan tidak turun malam itu. Semua menyaksikan penampilan api unggun dengan gembira. Ada penampilan dari kelas Geng Hijau, “menyanyikan lagu laskar pelangi” membuat semua tersenyum hangat. Lalu penampilan Kelas Alam “Drama 8 Sekawan” yang membuat kami terharu. Ada penampilan “Puisi” dari Kelas Cemara yang membuat kami terpukau dengan gaya mereka membacakan pusisi. Juga penampilan terakhir yang gong! “Dance sarung” dari kelas Koro yang membuat kami terhibur bahagia. Lalu dilanjut dengan kesan pesan dari anak-anak tentang perasaan dan pengalaman mereka selama di Ilalang, juga harapan untuk teman-teman. Dan api unggun malam itu ditutup dengan menyantap jagung bakar.
Malam itu, terasa hangatttt sekali. Badan kami hangat karena api unggun yang menyala juga jagung bakar lezat yang kami santap. Hati kami hangat dengan nikmat kebersamaan yang Allah berikan. “Ya Allah, terima kasih untuk segala nikmat. Engkau sebaik baik penentu takdir.”
Lalu waktu menunjukan pukul 20.00 semua kembali ke tenda untuk beristirahat. Malam itu, tidak ada hujan. Semua terlelap dalam tidurnya.
Pagi hari tiba, semua anak cerita bahwa malam itu mereka tidur nyenyakkkkk sekali. “Alhamdulillah gak ada hujan semalem, jadi aku nyenyak banget tidurnya. Tapi emang lebih dingin ya” celetuk salah satu anak.
Alhamdulillah pagi itu semua kembali bersemangat. Karena hari itu adalah jadwal kami kembali ke Ilalang. Mereka tidak sabar untuk bertemu keluarga di rumah. Tapi ada perasaan sedih juga karena camp akan berakhir. “Bah aku masih betah disini…” kata salah satu anak.
Tapi hidup harus terus berjalan. Kita harus bersiap dari satu takdir ke takdir lainnya. Itu pesan yang sering Pak Apri sampaikan juga.
Di penutup apel, Pak Apri juga berpesan kepada anak-anak, bahwa pengalaman dan pembelajaran yang sudah mereka dapatkan di camp ini, harus mereka aplikasikan juga di ilalang nanti. Saling membantu, kompak, peduli dan tidak mudah terpecah belah karena suatu masalah.
Alhamdulillah mereka semua ‘lulus ujian’. Juga para panitia yang ‘lulus’, menata hati, mengelola emosi yang naik turun, juga menyatukan perbedaan pendapat. Dan yang terpenting juga alhamdulillah tidak ada yang sakit.
Camp kali ini, aku disadarkan kembali tentang kekuatan sebuah doa. Bahwa doa adalah senjata orang mukmin. Camp berjalan lancar berkat doa dari semua. Alhamdulillah semua rencana dapat dilaksanakan, dengan sedikit perubahan teknis yang kami sesuaikan dengan kondisi yang ada.
Terima kasih ya Allah, Engkau Maha baik. Dengan segala rencana yang kami susun, Engkau sebaik-baik penentu takdir”.
Catatan Teh Wafa (Fasilitator Level PetualangĀ Kelas Alam)

Leave A Comment