
Perubahan demi perubahan dalam kurikulum pendidikan kerap dilakukan para pemangku kepentingan, entah berapa banyak kurikulum sudah berganti dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya. Walau terkesan didasari karena niat luhur dari para pemangku kebijakan untuk membuat kurikulum yang bisa mencetak anak menjawab tantangan zaman. Sayangnya perubahan yang terjadi hanya sekedar berganti kulit, tak pernah sampai kepada inti lalu perubahan terjadi lagi. Akhirnya bagi para guru kembali beradaptasi dengan kurikulum baru, padahal yang berubah hanya terkait istilah-istilah dari isi kurikulum
Zaman berganti, mungkin ini yang sering disampaikan saat perubahan kurikulum itu akan dilaksanakan. Menyiapkan anak untuk bisa mengaktualisasikan diri saat mereka dewasa kelak seperti menyihir semua orang untuk membuat seperangkat kurikulum. Isi kurikulum adalah sekumpulan kompetensi yang harus dimiliki anak, dengan asumsi anak yang memiliki kompetensi yang disusunlah yang akan mendapat kesuksesan dalam hidupnya kelak. Kita seperti lupa padahal Allah swt tentu tidak diam atas perubahan zaman yang terjadi, bukankah kita yakin bahwa Allah swt Rabbul ‘Alamiin, Allah adalah pemelihara alam semesta. Maka pasti dengan keyakinan kita Allah juga pasti menyiapkan kompetensi kepada manusia untuk bisa menjalani kehidupan sesuai zamannya.
اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙوَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (QS. Az Zumar : 62)
وَلَهٗ مَا سَكَنَ فِى الَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Milik-Nyalah segala sesuatu yang ada pada malam dan siang hari. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al An’am : 13)
Hanya dengan dua ayat di atas saja sebenarnya sudah cukup untuk kita meyakini, bahwa Allah swt mempergilirkan malam dan siang yang terakumulasi menjadi perubahan waktu sampai perubahan zaman. Bergilirnya zaman yang terjadi tentu atas pengetahuan Allah yang maha mengetahui, lalu Allah swt akan memelihara manusia untuk bisa menjalani perannya di bumi ini dengan memberikan potensi dan kompetensinya.
Sebagai contoh sederhana, sampai akhirnya seorang laki-laki dan perempuan yang Allah karuniakan anak, tanpa sadar potensi dan kompetensi yang ada dalam diri laki-laki dan perempuan itu seperti muncul sebagai modal dasar menjadi sosok ayah dan ibu. Laki-laki yang menjadi ayah merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat mendengar anaknya telah lahir, semangat untuk mencari rizki semakin bertambah, karena rasa tanggungjawabnya muncul untuk membesarkan anaknya. Bagi seorang perempuan yang menjadi ibu bahkan lebih hebat lagi, bukan hanya mental ibu yang bertumbuh tapi juga Allah menyiapkan struktur tubuhnya untuk bisa mengasuh anaknya dengan baik.
Ada sebuah penelitian yang membahas tentang jenis pekerjaan di Indonesia yang akan mengalami perubahan pada tahun 2030. Penelitian tersebut menyatakan bahwa sebanyak 23 juta pekerjaan akan dapat digantikan oleh proses otomasi, tapi hebatnya sebanyak 27 juta hingga 46 juta lapangan pekerjaan baru dapat diciptakan dalam periode tersebut. Lihatlah bukankan jika bukan karena Allah swt yang menyiapkan manusia untuk mengisi zamannya, mustahil pekerjaan sebanyak itu akan tercipta. Bahkan disebutkan 10 juta dari pekerjaan tersebut merupakan jenis pekerjaan baru yang tidak ada sebelumnya.
Tentu baik menyusun kurikulum yang isinya tentang kompetensi dan skill, walau sekarang sudah mulai juga memperhatikan potensi anak. Namun saat potensi, kompetensi dan skill itu sudah ditumbuhkan dan diajarkan pada anak lalu zaman kembali berubah dan membutuhkan skill yang lain, akan terjadi kembali banyak penyimpangan karena banyak potensi dan skill yang menganggur, seperti yang terjadi hari ini.
Kurikulum perlu disussun, tapi tetap memperhatikan pondasi utama dalam pendidikan. Pengembangan pendidikan itu sangat baik, bahkan hari ini banyak bermunculan konsep—konsep pendidikan yang menjadi alternatif, ada sekolah islam terpadu, sekolahnya manusia, sekolah alam, sekolah karakter dan lain sebagainya. Diantara bermunculan konsep pendidikan yang beragam itu sebanarnya tetap ada yang menjadi landasan yang tidak bisa berubah sampai kapan pun. Dalam Islam ada tiga hal yang tidak pernah akan berubah selama bumi dan alam semesta ini masih ada, yaitu Allah, Fitrah dan Kitabullah. Maka penting bagi orang tua dan pendidik untuk memperhatikan ketiga pondasi ini. Ketiganya merupakan hal dasar yang harus dihayati oleh anak-anak kita sejak mereka kecil.
ALLAH
Mengenal Allah swt adalah kebaikan terbesar bagi manusia yang harus diketahui oleh anak-anak. Pendidikan yang dilakukan bukanlah tentang menggali bakat anak lalu dengan bakatnya anak akan produktif. Padahal syarat pertama anak bisa mengenal dirinya adalah mengenal Allah swt. Bukankah dengan mengenal Allah swt manusia akan mengetahui asal muasalnya kemudian akan memahamni kemana mereka kembali dan memahami keberadaan mereka sekarang.
Jadi agar anak mengetahui hakikat tentang dirinya sendiri maka dia harus benar-benar mengenal Allah swt. Allah mengingatkan pada kita, bahwa jangan sampai anak kita lupa akan dirinya, tidak mengenal dirinya, tidak tahu potensinya karena mereka lupa pada Allah swt.
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (QS. Al Hasyr : 19)
Banyak orang resah tentang derasnya perubahan yang semakin hari semakin cepat, orang semakin lelah untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah, bahkan seiring waktu akhirnya mereka lupa pada dirinya. Sungguh semua berpangkal pada dirinya yang lupa pada Allah swt, lalu akhirnya dia lupa dirinya sendiri.
Mengenal dan dekat pada Allah membuat yakin bahwa dirinya Allah beri kelebihan-kelebihan sebagai alat untuk menjalani hidup, juga memiliki keyakinan akan masa depan yang mampu melahirkan ketenangan. Anak mengenal dirinya lewat tes bakat yang tidak didasari iman pada Allah swt mungkin bisa saja membangun kehebatan anak dan tercapai cita-citanya, menjadi dokter, bertitel, pengusaha dan lain sebagainya. Namun tak jarang sebagian besar diantara mereka akhirnya mengalami kehampaan, bahkan kelelahan dalam menjalankan tugas dalam profesinya. Kehampaan dan kelelahan itu buah dari obsesinya terhadap dunia, mereka bekerja untuk pemuasan fisik belaka. Alih-alih mereka mencari pembenaran dari kehampaan dan kelelahan yag mereka rasakan bahwa profesi ini sepertinya bukan jalan hidupnya.
Iman kepada Allah swt merupakan pendorong yang tak pernah habis bagi anak kita untuk melakukan amal-amal produktif. Karena yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk pengabdian pada Allah swt, semua kerja yang dia lakukan adalah persembahan karya kepada Allah swt. Mengenal dan dekat pada Allah inilah yang menjadikan anak-anak kita bisa menjalani hidup dimanapun mereka berada, dimanapun jurusan kuliahnya, dimanapun dia bekerja, karena hakikatnya semua yang mereka lakukan adalah bentuk pengabdiannya pada Allah swt.
FITRAH
Allah swt ciptakan manusia dengan fitrahnya, semua manusia hakikatnya islami. Karena fitrah itu sebenarnya islam itu sendiri.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar Rum : 30)
Maka tentu ayat ini memberi keyakinan pada kita, jika anak kita Allah ciptakan sesuai fitrahnya dan fitrah itu islami, berarti mendidik anak untuk menjadi islami bukanlah hal yang sulit. Sunggu Allah sendiri menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi muslim.
Jadi hakikat fitrah itu bukan sekedar tentang bakat, dalam kajian bersama Ustadz Adriano Rusfi, beliau menyampaikan bahwa fitrah itu terdiri dari taqdir, naluri, potensi dan nurani. Semua Allah install kedalam diri setiap anak kita untuk menjalani kehidupan. Allah berikan pada anak kita taqdir, mereka memiliki kadarnya masing-masing. Ada taqdir yang tidak bisa dirubah seperti jenis kelamin, ada yang laki-laki ada yang perempuan. Lalu tugas ayah bunda mendidik anak kita sesuai jenis kelaminnya, berikan hak-hak kelelakian dan keperempuanannya agar kelak anak laki-laki tumbuh menjadi lelaki yang maskulin nan sholih dan perempuan menjadi wanita feminin yang shilihah. Namun ada pula taqdir yang bersyarat, dimana anak kita bisa memilih jalan hidup seperti apa yang akan dijalaninya. Mati adalah taqdir mutlak tapi cara mati anak harus bisa memilihnya.
Fitrah juga berbicara tentang naluri, yang biasa kita kenal dengan nafsu. Bukanlah sebuah kehinaan saat Allah menciptakan nafsu pada diri manusia, Allah sendiri mengungkapkan bahwa dijadikan indah pada pandangan manusia terhadap apa-apa yang diingini.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (QS. Al Imran : 14).
Allah tak menjadikan manusia seperti malaikat yang diciptakan tanpa ada syahwat, tugas malaiakat adalah satu taat saja, merek tidak memiliki kekuatan untuk memilih dan menolak. Allah swt install naluri/ nafsu pada diri manusia sebagai cara untuk mempertahankan kemanusiaan. Bukankah manusia perlu syahwat untuk memperbanyak keturunan, bukankan manusia butuh gadhab (kemarahan) saat menjaga kehormatan diri dan agama. Syahwat dan ghadhab adalah adalah naluri manusia yang tidak perlu ditekan, tapi hanya perlu dikendalikan sebagaimana yang Allah swt arahkan. Manusia pasti menyukai lawan jenis, anak-anak, harta dan sebagainya, tapi ajarkan pada anak kita untuk tidak berkurang-kurang menyukainya atau berlebih-lebihan menyukainya, cukup sewajarnya saja.
Termasuk juga kedalam fitrah adalah potensi, disinilah anak kita Allah install kapasitas dan bakatnya. Bakat yang Allah install hakikatnya tools untuk menjalankan amanah manusia sebagai hamba dan khalifah. Sayangnya bakat anak baru mulai dikembangkan saat mereka memasuki usia 15-40 tahun. Jadi tak perlu terlalu dini untuk membuat anak berkompeten dalam bakatnya di saat mereka masih di usia pembentukan karakter (0-15 tahun).
Menemukan bakat yang paling akurat sebenarnya bukan lewat alat-alat yang manusia buat, itu bisa dilakukan, tapi sebetulnya hanya untuk sebagai bahan validasi dan hasilnya sendiri hanya memperlihatkan bakat-bakat yang ada di permukaan. Bukankah Allah mengingatkan tentang bakat/ syakilah ini bahwa manusia mengetahuinya hanya sedikit.
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.” (QS. Al Isra : 85).
Ingatlah kembali bahwa Allah swt mengingatkan untuk ingat pada Allah uuntuk bisa mengenal dirinya, lalu Allah juga mengirimkan instrumen untuk mengenali bakat manusia itu dengan cara memberikan beragam macam cobaan. Jika anak kita mudah terserang penyakit, bukan tidak mustahil Allah sedang menguji anak kita dan menyiapkan dirinya untuk siap berperan dalam bisang kesehatan. Jika anak kita mendapat cobaan dari teman-temannya, bisa jadi anak kita sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang psikolog yang bisa menyembuhkan luka-luka dalam pertemanan dst. Lalu setelah itu ajak anak kita untuk banyak beramal, beraktivitas, berkegiatan. Anak yang bisa mendeteksi kehebatan dirinya adalah saat anak memiiki kekayaan dalam pengalaman. Itulah kenapa kita sering dengan istilah banyak pengalaman banyak pelajaran.
Terakhir fitrah juga berbicara tentang nurani, setiap anak kita Allah instal juga nurani. Nurani seperti kompas alamiah yang ada dalam diri anak, kompas alami inilah yang akan membawa anak-anak mampu memilih antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kebathilan, antara kemanfaatan dan kemudharatan dan antara keindahan dan kejelekan. Pasti anak tak akan bersama-sama kita terus, adakalanya mereka dalam suasana kesendirian atau bersama beragam teman-temannya, banyak godaan dan ancaman menghadang anak-anak kita, tapi hanya nurani anak yang tajamlah yang mampu memilih dan memilah mana perbuatan yang harus dilakukan mana yang tdak boleh dilakukan.
Nurani tak akan pernah hilang dalam hati mereka, Allah swt akan selalu mengisinya dengan ilham dan hidayahNya. Sayang kebanyakan orang tua dan pendidik lebih senang mendidik otak anak dengan beragam macam pengetahuan dan informasi daripada mendidik hati mereka. Lebih senang anak terlihat duduk manis di dalam kelas mendengarkan ceramah guru daripada berjalan-jalan dimuka bumi yang akan menajamkan hati mereka.
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (QS. Al Hajj : 46)
KITABULLAH
Yang tidak akan pernah berubah juga sampai akhir zaman adalah Al-Quran. Allah menurunkannya sebagai kitab yang terakhir yang akan sesuai disepanjang zaman, juga yang akam mampu menjawab semua pertanyaan sampai bumi ini hancur. Dekatkan mereka untuk mampu membaca isyarat-isyarat yang ada dalam Al-Quran. Sungguh Al-Quran Allah turunkan bukan untuk membuat anak kita menjadi letih dan kesusahan.
مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Nabi Muhammad) supaya engkau menjadi susah. (QS. Thaha : 2)
Sebagaimana saat anak kita menunggu-nunggu paket yang datang dari jauh, mereka menanti-nanti kedatangan paket itu, tak sabar untuk membukanya. Mulailah untuk mengajak anak-anak kita menghayati bahwa Al-Quran itu adalah surat cinta yang datang dari tempat yang sangat jauh melewati beberpa lapis langit dari Allah yang sangat mencintainya.
اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۗ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara. Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali para hamba (Allah) yang disucikan (Al-Qur’an) diturunkan dari Tuhan seluruh alam.(QS. Al Waqi’ah : 77-80)
Hanya akal yang bersumber dari hatilah yang menjadikan anak-anak kita mampu mengambil petunjuk yang ada dalam Al-Quran, mungkin anak kita berhasil dalam profesinya, tapi banyak diantara mereka kehilangan petunjuk dari cahaya Al-Quran, lalu saat mereka tak punya petunjuk menjadikan mereka mudah terombang-ambing zaman.
***
Kurikulum yang disusun mungkin sangat mampu menjawab tantangan zaman, namun jika ketiga hal ini hanya sekedar sambilan dan sekenanya, kurikulum yang dibuat pasti akan kehilangan ruhnya. Kurikulum hanya dipandang setumpuk administrasi yang banyak menghabiskan waktu. Apapun zaman yang akan anak hadapi dimasa depan perisiapkan anak cukup tiga hal ini terlebih dahulu, jika ini sudah dihayati dan diamalkan oleh anak kita, yang lain akan mereka pelajari sendiri, kompetensi aka mereka kejar sendiri, skill akan mereka latih sendiri. Karena yang mendorong mereka adalah mengabdi pada Allah, mengaktualisasi Fitrahnya dan terbimbing atas petunjuk Al-Quran.

Leave A Comment