Sebelum era industri dimulai, para ayahlah yang menjadi sumber ilmu bagi anak-anaknya. Ayah pada manusia memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam adalah yang bertugas mendidik anak-anaknya, mulai menanamkan nilai-nilai dalam hidup dengan petuahnya yang sakti, sampai pada menularkan skill bercocok tanam dan memelihara hewan. Ayah mengajarkan bagaimana anak bisa survive dalam berbagai situasi, termasuk saat di lautan atau hutan belantara.
Seiring masuknya era industri, dibutuhkan tenaga laki-laki untuk mengoperasikan mesin-mesin pabrik demi mencapai hasil yang banyak dari sebuah produksi. Terlihat memang seperti memudahkan kehidupan manusia yang bisa mengkapitalisasi hasil produksi dalam jumlah besar, sehingga kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan sebanyak-banyaknya. Namun efeknya adalah menurunnya kualitas dan kuantitas para lelaki yang sudah punya anak untuk menemani dan mendidik anak-anaknya.
Semakin lama waktu terus berjalan, kesibukan para lelaki semakin menggerus kewajiban mendidik anak-anaknya, lalu dibuatlah sekolah untuk bisa membantu peran ayah yang semakin-hari semakin sibuk. Sekolah dididirikan dengan harapan dapat menambal beberapa kekuarangan dalam mendidik yang dilakukan ayah. Jadi semangat sekolah didirikan hanyalah sebatas pelengkap bukan pengganti. Karena kata sekolah berasal dari kata schole yang bermakna waktu luang.
Namun seiring waktu, bahkan sampai hari ini kita menempatkan sekolah sebagai pengganti pendidikan yang seharusnya dilakukan ayah, lebih disayangkan lagi para ibu yang juga harus bekerja menjadikan sekolah bukan sekedar sebagai pengganti tapi sekolah dituntut untuk juga mampu mendidik karakter anak-anaknya.
Kewajiban mendidik tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun dari tangan ayah dan ibu, bahkan sepanjang sejarah peradaban manusia semua pemimpin, pebisnis, ulama itu dilahirkan dari pendidikan keluarga yang alamiah. Bagaimana cara ayah dan ibu hidup itu merupakan cara bagaimana mereka mendidik anak-anaknya.Lembaga tertua dalam menghasilkan kualitas manusia yang mumpuni itu bukanlah kampus, tapi dari keteladanan dan ketulusan ayah dan ibu dalam mendidik dan mengasuh.
Lembaga pendidikan seperti sekolah perlu memberikan kesadaran kepada ayah bunda yang dalam pikirannya memasukkan anak ke sekolah adalah seperti menitipkan. Semua diserahkan kepada sekolah, lalu orang tua cukup konsentrasi mencari uang untuk memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya. Sekolah itu bukanlah tempat menitipkan anak, tapi sekolah hakikatnya sebagai partner ayah bunda dalam membentuk dan membimbing anak.
Filandia sebagai contoh pendidikan yang banyak dipelajari oleh pendidikan seluruh dunia memberikan kesempatan pada anak untuk banyak berinteraksi bersama orang tua, di Finlandia jumlah hari efektif di sekolah itu paling banyak 190 hari, artinya ada 170 har dalam satu tahun anak bersama dengan orang tuanya. Anak yang kenyang bersama orang tuanya sampai di usia 15 tahun akan mendapatkan kepercayaan diri di usia selanjutnya. Karena saat mereka sudah di usia 15 tahun ke atas, saatnyalah untuk berani memutuskan segalanya sendiri.
Mulailah merancang pendidikan di rumah dengan memperhatikan setiap fase pendidikan anak, 0-7 tahun adalah waktu bagi orang tua untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada anaknya, memenuhi setiap hak anak. Jangan sampai mereka merasa tak puas dengan pelayanan orang tuanya, karena akan menciderai egosentris anak sebagai modal anak memiliki kesadaran terhadap diri mereka sendiri.
7-10 tahun, memberikan pengalaman yang menarik untuk menjelajah alam raya, sambil memberikan tugas-tugas yang relevan sebagai sarana melatih anak menuju akil baligh di tahap pertama ini. Inilah waktu yang tepat untuk menularkan sifat-sifat kelelakian atau keperempuanan kepada anak kita yang laki-laki atau yang perempuan. Disamping tentunya pendidikan dari ayah dan ibu pada fase ini juga berefek pada pembentukan anak yang punya ketegasan sekaligus berperasaan.
Lalu terakhir saat masuk usia 10-15 Tahun, inilah waktu dimana anak mulai ditempa agar siap memikul beban saat mereka memasuki akil baligh. Entah berapa banyak anak-anak kita hari ini yang masuk usia balighnya mampu menceritakan tentang mimpi basahnya atau menstruasinya kepada ayah dan ibu. Usia 10 tahun dimulainya untuk memberi pemahaman tentang bersiap menjadi dewasa, ini tidak mungkin dilakukan oleh guru di sekolah, paling tidak mungkin guru hanya sekedar memberikan informasi tentang fiqh yang terkait hal ini, namun hal-hal yang sifatnya privasi tentu tidak semua anak mau menyampaikan kepada guru. Maka jika orang tua tidak memulainya saat mereka masuk usia 10 tahun, kemudian sampai usia 12/ 13 tahun mereka baligh, kepada siapa mereka harus berkonsultasi. Jangan sampai mereka berkonsultasi kepada yang tidak bertanggungjawab..
Sampai 15 tahun saja proses pendidikan kepada anak dilakukan, setelahnya tidak ada lagi proses pendidikan. Yang tadinya disebut sebagai anak telah berubah menjadi pemuda yang dewasa. Bukankan kata kamaa rabbayani shaghira itu tentang mendidik anak diwaktu kecil, bukan saat anak sudah besar (dewasa).

Leave A Comment