1. Kenal Allah maka kita akan mengenal diri kita.
{ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ }
[Surat Al-Hasyr: 19]
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
Banyak anak yang merasa salah jurusan, bukan karena mereka tak mengenal bakat sebelumnya, tapi karena dia lupa pada Allah. Setiap tempat dia berada hakikatnya sarana untuk beribadah, mengabdi pada Allah swt, apapun sebenarnya jurusan yang dia ambil. Sungguh kesadaran diri itu dasarnya Iman.
2. Akrab dengan ujian dan kesulitan.
{ وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ أَعۡرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ يَـُٔوسٗا }
[Surat Al-Isra’: 83]
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa.
Ujian itu psikotestnya Allah SWT, temu bakat dari Allah langsung. Jadi tak perlu takut jika anak di uji dengan kesulitan kesulitan.
Jika ada yang di uji dengan kesehatan, bisa jadi di sana letak kekuatannya, dia bisa merasakan orang sakit.
Jika di uji dengan pengasuhan pengasuhan yang buruk, bisa jadi dia akan jadi ahli parenting. Dst…
Karena di ayat ini Allah menyambungkan dengan ayat tentang saykilah (konfigurasi bakat)
3. Jelajah di alam bebas. Di alamlah watak asli orang itu akan terlihat. Dia tidak akan bisa di tutup tutupi.
Bahkan jelajah alam juga bisa membentuk kesadaran diri, saat naik gunung misalnya, pikiran dan hatinya akan terus berbicara, memotivasi diri.
Jangan salah ada orang yang mudah mengurai dan berbicara pada dirinya dengan baik saat roda kereta itu berputar. Roda kereta yang berputar mengiringi pikirannya juga yang berputar.
{ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ }
[Surat Al-Hajj: 46]
Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
***
Jadi mendidik anak mengenal dirinya sendiri bukan lewat tes tes bakat yang instan, tapi ketiga hal diatas yang paling perlu kita perhatikan.
Tes bakat itu sebenarnya hanya untuk validasi saja, atau kebutuhan kita untuk mengobservasi anak, bukan awal dan akhir segalanya. Karena tes bakat hanya untuk memahami bakat di atas permukaan, karena masih banyak yang belum terlihat dibawah permukaan. Sungguh manusia hanya sedikit memahami dirinya sendiri, yang paling tahu adalah Allah SWT.
{ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا }
[Surat Al-Isra’: 85]
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

Leave A Comment