Petualang pertama bola api ⚽????
Oleh : Teh Kiki
Seperti namanya Bola Api, kami senang menggelinding bergerak kesana-kemari. Kelas yang isinya anak-anak dengan ragam usia 6-7 tahun. Dan kami melakukan perjalanan pertama kami.
Awalnya sebagai fasilitator aku cukup deg-degan, selain karena usia yang masih belia, beberapa diantara kami belum pernah melakukan petualangan dan camping di alam tanpa orang tua.
Alhamdulillah petualangan ini cukup suskses dan berhasil oleh anak-anak pemula. meskipun ada yang menangis di malam hari karna tidak mau tidur di tenda, siang hari pun ada yang rindu ayah bunda serta keluarga. Ini tidak mudah, tapi ini adalah tantangan saat membawa anak ke alam bebas.
Saat ada anak yang menangis hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba menarik napas dalam-dalam agar menetralkan perasanku. Rasa empati membuatku mampu membantu anak dengan mengibur dan membantu menguraikan perasannya mereka. Sejauh ini, cara itu paling efektif bekerja pada anak yang sedang gundah dan sulit mendefinisikan rasa. Syukur Alhamdulillah kami bisa melewati petulanagan pertama kami dengan bahagia bersama-sama.
***
Merayakan Upaya-Upaya Kecil
Oleh : Teh Vidi
Kelas kami di Ilalang School merupakan kelas paling tinggi, dari segi usia, kedewasaan, bahkan bisa jadi juga pengalaman.
Astro nama kelas kami. menjunjung value kontribusi. Maka dari Itu, (bukan secara kebetulan, ini sudah sekenario Allah SWT) kami mencoba memberanikan diri untuk berkontribusi pada sebuah agenda besar Ilalang School, yaitu Ilalang Camp.
Menjadi panitia camp adalah pengalaman perdana. Banyak bingungnya, jelas. Tapi aku sebagai fasilitator mencoba semampuku menemani dan memberikan gambaran tentang camp yang sudah lalu. Bahkan fasilitator lain sangat banyak membantu, juga memberi dukungan. Meskipun beberapa kali, dukungan yang ada malah salah tangkap, salah arti, lalu salah paham.
Tapi disitu seninya, seni berkomunikasi, seni menyampaikan dan menerima informasi, juga mengelola diri. Karena bukan hanya tenaga yang dikorbankan, pikiran serta hati ikut berkejaran, berlomba untuk tidak saling membinasakan.
Dimulai dari perencanaan, pembagian peran, hingga pelaksanaan. Mengenai peran, masing-masing peran berbeda. Ada yang hanya menjalankan perannya, ada yang saling membantu peran rekannya, ada juga yang perannya timbul tenggelam, muncul saat di tarik, tenggelam sesudahnya.
Lagi, aku mencoba menanamkan di dalam pikiran “mereka baru pertama kali, masih banyak kesempatan selanjutnya” “mereka nggak suka di setir, jadi biarkan mereka berjalan sesuai lakon yang sedang diperankan”. Menahan diri untuk tidak cerewet bilang ini itu, mengondisikan ekspresi saat nggak sesuai dengan alurnya. Eh tapii kalau dipikir-pikir Allah sebaik-baik pemberi alur. Alur yang sudah terjadi it must be the best way that Allah give to us. Meskipun jujur sulit dilakukan, masih harus terus belajar, salah satunya belajar pada apa menggantungkan harap.
Zero expectation terhadap makhluk dan gantungkan harap hanya pada Allah. Allah langsung yang akan turun tangan mendidik kami. Suprisingly, banyak hal-hal baik terjadi secara tak terduga. Ada yang tiba-tiba bisa banget bonding dan melayani adiknya yang ABK, ada yang meskipun gayanya slengean tetap tiap jam makan dateng ke tenda adik-adiknya nanya “eh udah masak belum?” Ada yang langsung sat set urusin adik-adiknya dan bikin temennya keinfluence untuk bergerak juga karena lihat dia, ada yang sambil ngedumel-dumel tapi selalu pengen memberikan hasil terbaik, pokoknya banyak hal-hal tak terduga yang bikin aku takjub banget, yang kalau diingat bisa buat anak sungai dipelupuk mata karena terharu.
Lagi, kalau aku sebagai fasilnya terlalu banyak ngomel atau nyetir, hal-hal kaya gini mungkin jadi nggak terlihat, atau bisa jadi terlihat tapi feelnya hambar. Dan menghargai usaha-usaha kecil adalah caraku merayakan aku dan anak kelas Astro.
Selamat bertumbuh teman-teman. Selamat merayakan upaya-upaya kecil.
Nggak apa-apa, sekarang kita kecil-kecilan dulu, nanti yang kecil ini akan bertumbuh menjadi raksasa.
***
Menempa di Alam dengan Mengagungkan Kuasa-Nya
Oleh : Teh Ayu
Masyaallah perjalanan camp Ilalang kali ini sungguh sangat luar biasa, dengan segala persiapan dan pelaksanaannya.
Camp kali ini merupakan camp yang memberikan arti yang sangat berarti bagi kelas bumi, karena kami benar-benar merasakan ditempa dibumi alam raya, jujur pada saat persiapan kami sedikit tidak percaya diri namun dengan komunikasi, saling support, saling memberikan semangat dan saling memberikan vibes positif satu sama lain sampai akhirnya kami mampu menjalankan tanggungjawab masing-masing ada yang sebagai ketua kelompok dan anggota kelompok bahkan saat kegiatan traking kami bersemangat dan kami merasakan betul pada saat melantunkan dzikir dengan sesuai track yang dilalui memberikan kekuatan penuh keyakinan mampu menapaki bumi alam raya yang terhampar dan hingga akhirnya kami rasakan finally kami berhasil traking dan mereka saling berujar “Alhamdulillah te ayu kita berhasil dan tidak mengeluh” Tergambar guratan kebanggan dan kebahagiaan yang mereka rasakan.
Terimakasih Abah Apri, Ambu Nupus, Fasilitator, Kelas Bola Api, Kelas Cahaya, Kelas Kampung Boy, Kelas Astro yang telah membantu Kelas Bumi menempa di alam dengan mengagungkan kuasa-Nya. .
***
SANTAI TAPI MENDALAM
Oleh : Teh Wafa
Kemah Ilalang, dengan tema jaga bumi jaga lingkungan disayang Allah.
Kegiatan-kegiatan yang dihadirkan sederhana, santai tapi mendalam. Siang hari di hari pertama, sambil menunggu waktu berenang, kami tidur²an di atas rumput sambil bertadabur. Belajar tentang tanda² alam, bahwa ketika di atas langit banyak hewan yang masih bertebrangan, seperti capung, kupu-kupu itu tandanya udara disana masih bersih, masyaaAllah. Tidur²an dialam sambil merenung tentang apa yang telah manusia lakukan terhadap bumi, karena faktanya diluar sana sudah jarang sekali melihat hewan² bersayap terbang diatas langit.
Saat berenang, persis disamping kolam ada batu yang terbelah yang mengeluarkan mata air. Bertadabur membuktikan firman Allah tentang batu yang terbelah mengeluarkan mata air, dalam surat Al Baqarah ayat 74.
Kemudian, saat kemah kemarin kami selalu melakukan solat dengan berjamaah. Sambil menunggu waktu solat, Abah Apri memberikan kisah dari ayat² Allah tentang alam semesta, di surat Annaba 6-7.
Selepas solat ada kegiatan tanya jawab, anak² antusias mengikutinya. Tanya jawab sederhana tapi mendalam. Ada juga yang bertanya pertanyaan unik, “Bah tadi aku solat ada kucing kewat depan aku, kucingnya dosa gak ya?”
Lalu dimalam kesatu, kami ada kegiatan Night Walk atau jalan malam. Ada 3 pos yang disediakan. Di pos pertama, membahas tentang hewan² malam yang Allah ciptakan. Allah sudah menciptakan hewan malam sedemikian rupa mulai dari mata yang tajam agar bisa melihat dimalam hari, pendengaran dan perabaan yang khusus agar terhindar dari predator, sehingga mereka bisa aktif dimalam hari dan istirahat di siang hari. Tentu berbeda dengan manusia yang Allah ciptakan siang hari untuk beraktifitas dan malam hari untuk beristirahat.
Lalu berlanjut di pos kedua, membahas tentang mengapa Allah menciptakan malam, dan selain beristirahat, manusia dianjurkan untuk bangun disepertiga malam karena pada saat itu Allah sedang dekat dengan kita dan doa yang dipanjatkan akan mudah diijabah.
Lalu di pos ketiga yaitu pos terakhir, muhasabah diri tentang apa² yang sudah kita lakukan selama seharian. Merenung tentang kesalan yang telah kita perbuat, tentang kebaikan apa yang sudah kita berikan. Lalu ada pertanyaan unik dari salah satu anak “Abah gimana cara kita minta maaf ke tumbuhan? Soalnya tadi aku cabutin tanaman”
Perjalanan malam dengan rute singkat, santai tapi mendalam.
Lalu dihari kedua, ada kegiatan tracking dan outbond, kegiatan untuk menempa diri. Lagi² rute yang lalui sangat pendek, 1/4 dari gunung dibagai 8. Tapi memang bukan jarak track yang jauh sebagai pencapaian. Kita menikmati jalan yang dilalui, belajar memotivasi diri dan teman² yg sudah mulai kelelahan. Belajar juga tentang sejarah, tentang jenis² tanaman dan merasakan pengalaman pertama makan nasi ditengah hutan. MasyaaAllah nikmat luar biasa. Sederhana tapi mendalam.
Lalu lanjut dimalam harinya ada api unggun diisi dengan penampilan dari setiap kelas. Dari mulai lagu asik penambah semangat dari kelas bola api. Lalu ada tarian lucu dan seru dari kelas bumi. Ada taujih dari kelas kampung boys. Ada lagu legend yang dibawakan kelas cahaya. Sampe lagu galau yang dinyanyikan oleh kelas astro. Dan ditutup dengan penampilan dari fasil. Penampilan teatrikal tentang monster sampah. Teatrikal yang sederhana tapi mendalam. Pesannya semoga kita semua mulai sadar dengan sampah yang kita gunakan. Sadar bahwa bumi sedang tidak baik² saja, maka bijak dan peduli pada alam. Agar alam peduli pada kita.
Dan itulah keseruan tentang kemah ilalang ke empat ini. Pengalaman luar biasa, bukan hanya untuk anak, tapi kami sebagai fasil juga belajar banyak hal. Karena begitulah hakikatnya hidup, saling belajar satu sama lain. Saling belajar dari makhluk2 lain. Wallahualam~
***
Belajar ikhlas karena Allah SWT
Oleh : Kak Suma
Dari pelajaran camp kemarin saya banyak belajar tentang memahami apa arti kata ikhlas itu bahwa niatkanlah segala sesuatu karena Allah supaya hidup kita jadi berkah dan bermanfaat untuk orang sekitar kita .. bagaimana kita bertafakur tentang ciptaan nya dan mensyukuri segala atas nikmat yg telah Allah berikan
Sekian terimakasih pa apri dan Ambu nufus yg selalu memberikan nasihat dan motivasi untuk Suma supaya tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Leave A Comment