Pendidikan adalah konsep paling umum. Di dalam ruang besar pendidikan terdapat banyak model yang bisa dilakukan. Misalnya pengajaran, pelatihan, pendalaman, pengembangan bakat, dan sebagainya. Setiap satuan pendidikan seyogianya punya model dasar yang diterapkan sesuai dengan tujuan dari satuan pendidikan tersebut.
Jauh yang saya amati, sekolah formal mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas di Indonesia fokus pada model pengajaran saja. Hal ini terbawa hingga tingkat pendidikan tinggi, terutama di jurusan-jurusan hard science. Pengajaran adalah model pendidikan yang mengutamakan transfer knowledge dari pengajar ke peserta didik. Apakah ini model yang ideal? Tentu saja tidak. Lucu sekali kalau kita membayangkan anak kuliahan masih perlu disuapi macam anak SMP. Tapi kenyataannya hal itu benar-benar terjadi.
***
Tapi itu kapan-kapan saja kita bahas. Kita mulai dulu dari pendidikan dasar dan menengah. Apa sih model pendidikan yang paling cocok diterapkan untuk tingkat dasar dan menengah?
***
Di tingkat dasar, hal paling penting yang perlu diberikan kepada peserta didik (anak) adalah pembiasaan. Pembentukan karakter lah, bahasa kemdikbud-nya mah. (Sebetulnya sih lebih tepat kalau kita sebut ‘adab’ ketimbang ‘karakter’.) Ini harus betul-betul diutamakan di atas model pendidikan yang lain. Jangan cuma jadi jargon. Misal, seorang anak SD tidak pandai matematika, itu jangan terlalu dijadikan soal. Tapi kalau seorang anak SD buang sampah sembarang, merisak temannya, atau berbohong, nah itu baru harus jadi masalah besar. Apakah sudah seperti itu yang kita temui di masyarakat hari ini?
***
Kenapa model pembiasaan harus diterapkan di tingkat dasar? Sebab, adab memang idealnya dibentuk di tingkat dasar. Anda tidak akan bisa mengubah adab buruk orang yang sudah jadi mahasiswa. Itu agak mustahil. Masa SD adalah masa-masa kritis di mana kita bisa menanamkan adab kepada para calon orang dewasa ini (baca: anak-anak).
***
Adab seperti apa yang perlu diterapkan? Bukankah setiap anak punya karakter yang berbeda-beda? Tentu kita tidak bisa menyeragamkan perilaku setiap orang. Selain mustahil, hal itu juga sangat tidak baik untuk masa depan masayarakat. Akan tetapi, kita setidaknya bisa meningkatkan pemahaman atas akal sehat, bukan?
***
Akal sehat ini berhubungan dengan hal-hal mendasar yang sudah sangat kita lupakan, mulai dari hal-hal berbau ketertiban, seperti kesadaran diri untuk terbiasa mengantre, tertib berkendara, tertib berbahasa, sampai bentuk-bentuk abstrak seperti menghargai orang lain dan mengekspresikan diri dengan tepat di ruang publik. Simpelnya, anak-anak diajari tata krama, meskipun jangan sampai jumud juga. Sewajarnya saja.
***
Yang lebih penting adalah anak-anak diajari untuk mengenali diri mereka sendiri sejak dini. Ini akan sangat berpengaruh pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dengan pengenalan diri yang baik, seorang anak akan bisa merencanakan program pendidikannya sedini mungkin. Tentu saja semua utopia ini wajib diawali dengan menanamkan keberanian. Wah, ini tugas yang sulit lagi.
***
Tak kalah pentingnya adalah mengajari anak mengenai pekerjaan dasar rumah tangga, seperti mencuci baju, mencuci piring, memasak, menjemur pakaian, dan sebagainya. Ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Saya termasuk orang yang sangat terlambat menyadari pentingnya kerja domestik–saya kira hampir semua orang juga begitu. Alangkah baiknya jika sejak dini anak sudah bisa sedikit demi sedikit menyadari bentuk dasar kegiatan hidup berupa kerja-kerja domestik tersebut. Apabila sewaktu-waktu mereka harus hidup sendirian, mereka akan bisa melakukannya. Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa yang akan datang.
***
Ini adalah tugas besar pendidikan dasar.
Jika pendidikan dasarnya sudah bagus, baru kita bisa melanjutkan ke model pendidikan yang selanjutnya. Misalnya pengajaran. Di SMP mulai bisa sedikit lebih serius mengajari peserta didik tentang ilmu-ilmu mendasar seperti matematika, bahasa, logika, dan wawasan mengenai dunia.
Anak-anak sebetulnya mampu mempelajari hal-hal hebat, tetapi selama ini kita malah menjejali mereka dengan muatan pengetahuan yang tidak relevan bagi kehidupan pribadi mereka–yang berbeda-beda. Selain itu, pendidikan formal juga seringnya malah membungkam karakter dasar yang dimiliki setiap anak–yang juga berbeda-beda.
***
Saya memahami bahwa kebanyakan orang tua tentu saja sulit untuk menganggap bahwa anak remajanya sudah mampu berpikir sendiri. Itu bisa dimaklumi. Tetapi seharusnya anggapan ini pun bisa diubah. Jadi intinya, bukan hanya mereka (para remaja) yang harus mau mengikuti perubahan, justru orang-orang dewasa lah yang mesti berani mengakui bahwa selama ini mereka melakukan banyak hal yang menghambat perkembangan generasi selanjutnya.
***
Penulis
Romi Fathullah- Fasilitator Ilalang

Leave A Comment