Marah Sekarang, Menyesal Kemudian?
(Renungan untuk Orang Tua Generasi Z & Alpha)
Setiap orang tua pernah marah. Rasanya seperti reaksi yang spontan, seketika meletup begitu kesabaran sudah habis. Apalagi terhadap anak-anak kita zaman sekarang, yaitu Generasi Z dan Alpha yang hidup di dunia yang benar-benar berbeda dengan kita dulu. Kadang kita merasa mereka tidak mendengarkan, terlalu asyik dengan smartphonenya atau sulit memahami aturan yang kita buat. Lalu kita marah. Tapi setelah itu, apa yang kita rasakan? Penyesalan. Hati kecil berkata, “Haruskah tadi Saya semarah itu?”
Wajar, kita manusia. Kita bisa kesal, kita bisa lelah. Anak-anak tidak selalu patuh dan mereka pasti membuat kesalahan. Marah itu bisa jadi reaksi normal. Namun yang perlu diingat adalah marah yang berlebihan bisa lebih merusak daripada membangun. Ketika kita marah kita mungkin berpikir sedang mendisiplinkan, tapi yang anak-anak rasakan sering kali adalah ketakutan. Mereka merasa tidak dicintai atau bahkan merasa bahwa keberadaan mereka adalah masalah besar bagi hidup kita.
Anak-anak Gen Z dan Alpha tumbuh dengan cara yang berbeda. Mereka hidup di era digital yang dikelilingi teknologi dan informasi yang mengalir tanpa henti. Kita tidak tumbuh di dunia seperti itu. Sehingga wajar jika kita kadang sulit memahami mereka. Tetapi sebagai orang tua tugas kita adalah menemani mereka dalam proses ini, bukan sekadar memarahi saat kita tak paham dunia mereka.
Sering kali kemarahan kita sebagai orang tua berasal dari ekspektasi yang tidak terpenuhi. Kita ingin anak disiplin, kita ingin mereka nurut. Tapi kenyataan sering tak sejalan dengan harapan. Ketika anak tidak mengikuti aturan, frustrasi muncul dan marah jadi reaksi cepat. Tapi apakah kemarahan ini efektif? Mungkin tidak. Justru ini bisa membuat jarak antara kita dan anak-anak semakin jauh.
Sebenarnya di balik kemarahan itu ada rasa cinta. Kita ingin anak-anak kita menjadi versi terbaik dari diri mereka. Namun, marah tanpa arah malah menimbulkan rasa bersalah dan semakin membuat kita merasa gagal sebagai orang tua.
Marah adalah reaksi emosional alami yang muncul ketika kita merasa terancam, tersakiti, atau frustrasi. Secara psikologis, marah adalah mekanisme pertahanan. Akan tetapi marah yang tidak terkendali bisa menjadi racun yang bukan hanya bagi orang lain, tapi juga bagi diri kita sendiri. Tubuh kita bereaksi dengan stres, jantung berdetak lebih cepat, dan otak dibanjiri oleh hormon-hormon negatif.
Setiap kali kita marah ada dampak yang tidak terlihat, tapi sangat nyata bagi anak. Mereka mungkin diam, menunduk, atau menangis. Tetapi di dalam hati mereka, ada sesuatu yang lebih besar. Anak yang sering dimarahi akan mulai mempertanyakan nilainya sendiri. Mereka bisa merasa bahwa tidak ada yang mereka lakukan yang benar. Seiring waktu, mereka bisa merasa tidak layak dicintai.
Dan bagi kita sendiri marah sungguh menguras tenaga. Setelah marah, ada kelelahan yang datang. Pikiran kita dipenuhi rasa bersalah, tapi sering kali kita tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Pada akhirnya kita merasa terjebak dalam siklus yang berulang : marah, menyesal, lalu marah lagi.
Kemarahan yang terus-menerus akan meninggalkan bekas yang mendalam di hati anak. Mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang penuh kecemasan, takut membuat kesalahan, atau justru menjadi pemberontak yang menolak semua aturan. Lebih parah lagi, mereka bisa merasa jauh dari kita, orang tua yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung.
Di masa depan, anak yang sering dimarahi bisa membawa luka emosional itu hingga dewasa. Mereka mungkin kesulitan membangun hubungan yang sehat, takut berkomunikasi dengan orang lain atau bahkan mengalami masalah dengan kepercayaan diri. Luka-luka yang tampaknya kecil di masa kecil bisa berkembang menjadi masalah besar ketika mereka tumbuh.
Diantara contoh kasusnya adalah laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pada tahun 2023, KPAI mencatat setidaknya ada 17 kasus anak yang melakukan bunuh diri. Beberapa di antaranya terjadi karena anak merasa tertekan oleh pola pengasuhan yang keras, termasuk sering dimarahi atau diberikan kritik berlebihan oleh orang tua. Kasus-kasus ini mayoritas terjadi pada anak-anak di usia remaja, yang masih duduk di bangku SD hingga SMA. Mereka merasa tidak mampu menghadapi tuntutan dan ekspektasi yang diberikan oleh orang tua mereka. Hal ini menegaskan pentingnya pola asuh yang lebih lembut dan penuh pengertian, serta perlunya komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, agar anak tidak merasa tertekan hingga berujung pada tindakan yang tragis.
Setiap kali kita merasa marah, ada baiknya kita berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam, beri diri kita waktu untuk tenang. Terkadang meninggalkan ruangan sejenak bisa membantu. Setelah emosi mereda, barulah kita bicara dengan anak. Bukan dengan nada marah, tapi dengan penuh kasih sayang. Ajak mereka bicara, tanyakan apa yang terjadi dan jelaskan kenapa kita kesal. Dengan cara ini, anak-anak bisa belajar dari kesalahan mereka tanpa merasa diserang.
Refleksi diri juga sangat penting. Setiap malam, coba renungkan apa yang membuat kita marah hari ini. Apakah ada cara lain yang bisa kita ambil? Bagaimana jika kita memilih untuk mendengarkan lebih banyak dan marah lebih sedikit?
Kita semua ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi ingatlah, marah bukanlah cara terbaik untuk mengajarkan sesuatu. Marah mungkin membuat kita merasa lega sejenak, tapi bekas yang ditinggalkannya di hati anak bisa sangat dalam. Mereka membutuhkan kita untuk menjadi pemandu, pelindung, dan sahabat, bukan hanya pemberi perintah yang penuh amarah.
Mari kita jaga agar hubungan kita dengan anak tetap kuat. Biarkan cinta dan kesabaran yang memimpin, bukan amarah. Masa depan mereka nanti ada di tangan kita orang tuanya, dan setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan membentuk siapa mereka nanti.
Salam hangat, tumbuh bersama dalam cinta…
Tomy Octavian
Pembina Keluarga Ilalang School
Certified Clinical Mental Health Counselor
Master of Science in Psychology & Islamic Counselling (cand)

Leave A Comment